Hidup tanpa beban
Apakah benar hidup itu tanpa beban?
HARGAILAH PERBEDAAN
Pelatihan diikuti oleh guru matematika serta guru TIK yang diajarkan tentang pembuatan bahan ajar berbasis web serta SEACYBERCLASS DAN SEAMOLEC Multi Studio.
Bagaimana cara menambahkan pengguna?
Dengan posisi sebagai administrator, menu menambahkan pengguna terdapat di dasbor: ‘Pengguna’ / ‘Users’ » ‘Authors & Users’ / ‘Penulis & Pengguna’. Kemudian pada kolom di bawahnya terdapat ‘Add User From Community’ / ‘Tambahkan Pengguna Dari Komunitas’. Admin dapat mengundang pengguna lain untuk bergabung bersama di blognya. Cukup dengan:
Diperbaharui 1 Agustus 2007:
Jika calon pengguna yang diundang belum memiliki akun di wp.com, akan memunculkan pesan sebagai berikut:
That email address does not belong to any user here. Would you like to invite that person to use WordPress.com?
Klik ‘Invite your friend!’ untuk mengajak pengguna lain menggunakan wp.com.
Tandai ‘Add user to my blog as a [...peran yang sesuai...]‘ untuk melanjutkan undangan.
Untuk mengubah atau menghapus peran pengguna, gunakan kolom di atasnya (‘User List by Role’) untuk mengelola.
1. Antena parabola sudah tidak sinkron lagi, untuk tipe solid mungkin pernah tertimpah atau sudah ada bagian yang penyot, jadi sebaiknya kenali dulu bentuknya atau juga jika kita akan memindahkan antenanya jagan di pegang pada bagian ujung tengah, sebaiknya pegang pada bagian sambungan di tiap keping/ lempengan. Pada dish tipe ram/ jaring bisa juga terdapat bagian-bagian yang sudah sobek/ bocor dan bentuknya sudah tidak rata atau cembung terlebih pada bagian dekat fokusnya.
2. Low Noise Block (LNB), Tipenya tidak sesuai dengan peruntukannya, contohnya LNB KU Band offset di pasang pada antena parabola tipe ram, LNB KU Band Prime focus dipakaikan pada dish offset, LNB yang di beli dari toko ternyata sudah tidak bagus atau rusak.
3. Konektor pada bagian LNB bisa mengakibatkan terganggunya penerimaan signal apabila sudah berkarat, periksalah setiap saat keadaan kabel dan konektor ke LNB.
4. Kabel yang menghubungkan LNB dan receiver/ DVBS yang terlalu panjang bisa mengakibatkan kualitas signal menurun.
5. Tiang Antena parabola, tiang yang tidak berdiri tegak lurus lagi sangat berpengaruh terhadap kualitas signal nantinya.
6. Digital Video Broadcast DVBS/ receiver, masalah yang sering terjadi pada DVBS adalah rusak pada bagian tunner.
7. Keadaan sekitar antena ada yang menghalangi, contohnya tembok, atap rumah, pohon.
8. Waktu pointing ke satelit untuk mendapatkan signal yang bagus sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah di sore hari menjelang malam, jika dilakukan pada siang/ Tengah hari pasti pada malamnya signal akan menurun (teori memuai).
berikut presentasi dan informasi awal terkait program PVB
Draft Permen Versi rapat tanggal 21 April 2011
Seamless-05-3
Jalan mana yang harus ditempuh. Setelah lama didiskusikan, ternyata para petinggi kita tetap memutuskan dan menganbil sebuah kebijakan yang kurang bijaksana untuk para bawahannya. Para petinggi entah petinggi apa saja dinegara ini, sebagian besar adalah hanay mementingkan partai dan bukan mementingkan kepentingan bawahannya. Dengan alasan saya mewakili partai dan bukan mewakili bawahan saya. Sadis…disaat membutukan bawahan untuk menaikkan jabatannya mereka berlomba memberi janji dan janji. Tetapi disaat mereka sudah berada pada posisi lebih tinggi dari sebelumnya, mereka lupa akan siapa yang mengangkatnya. Inilah yang membedakan antaraPIL KB dan PILKADA. Yang membedakan dari kedua hal itu adalah “ bila PIL KB, kalau lupa pasti jadi, tetapi kalau PILKADA, kalau jadi pasti lupa”. Ini yang biasa terjadi pada petingi kita.Jadi bagaimana kita bisa memilih mereka. Andai kata suara saya saat pemilihan dapat dicabut lagi, maka suara saya akan saya cabut dan saya tidak akan memilih. Karena tidak ada untungnya buat saya ketika memilih orang tersebut.
Ini cerita lama yang sedikit terlupakan. Cerita dimulai dari kisah seorang gembala kambing yang bernama Tejo. Di adalah seorang anak dari keluarga kurang mampu. Dia bekerja menggembala kambing pada salah seorang kaya dikampungnya. Kambing yang ia gembalakan sebanyak 15 ekor berjenis kambing Australia.Setiap hari Tejo membawa kambing gembalanya ke padang rumput atau ke tempat yang tersedia rumput untuk kambing gembalanya. Disela sela kambing gembalanya memakai rumput yang hijau dan segar, Tejo mencari rumput untuk makanan kambing gembalanya dimalam hari. Hal itu dilakukan setiap hari oleh Tejo. Tejo memang kurang berkesempatan untuk sekolah, dia keluar saat memasuki kelas 5 SD, dengan alasan harus bekerja membantu orang tua, setelah bapak Tejo meninggal. Tapi walaupun tamatan kelas 5 SD, Tejo bisa membaca dan berhitung. Pada suatu hari tibalah musim kemarau panjang dikampungnya dan daerah sekitarnya. Ketika memasuki awal awal musim kemarau, Tejo berusaha mencari rumput sebanyak banyaknya untuk persediaan makanan bagi kambing gembalanya. Dalam hati Tejo berkata “aman sekarang saya sudah mempunyai rumput musim kemarau ini”. Setiap hari Tejo mencari rumput disela sela mengawasi kambing gembalanya saat digembalakan. Juragan Tejo senang melihat kambing gembala Tejo gemuk dan bersih. Akhirnya tibalah musim kemarau, musim kemarau ini tampaknya lebih panjang dari musim kemarau sebelumnya. Sehingga persediaan makanan untuk kambing gembala Tejo sudah mulai habis. Suatu ketika Tejo tidak berangkat menggembalakan kambing. Lalu ditanya oleh ibunya “Tejo kenapa kamu tidak menggembalakan kambing kambing juragan”. Tejo lama terdiam dan lalu menjawab “tidak bu?”. Lalu si ibu bertanya lagi “apakah kamu sakit?”. Tejo menjawab “tidak bu”. Lalu si ibu bertanya lagi “lalu kenapa”. Tejo menjawab “susah mencari rumput bu, lagi kering semua”.Ibu menjawab “ya sudah kalau begitu, sana makan dulu”. Kemudian Tejo pergi makan. Setelah makan Tejo duduk didipan depan rumah. Nampaknya dia sedang berfikir dengan keadaan yang dia hadapi. Tejo takut bila kambing gembalanya kurus dan mati karena kelaparan. Dan dia takut bila juragan pemilik kambing tersebut marah kepadanya. Ditengah Tejo berfikir tiba tiba dia melihat secarik kertas warna hijau yang sedang terbang kearahnya. Nampaknya kertas itu adalah bekas pembungkus kado. Setelah dia ambil dan diamati kertas tersebut ternyata tembus pandang. Dari secari kertas itu akhirnya Tejo ingat pesan dari gurunya pada waktu dia sekolah. Pesan yang dia ingat adalah “bahwa manusia itu diberikan akan dan fikiran” dari kalimat itu Tejo memahami 2 hal yaitu akal untuk mengakali sesuatu dan fikiran untuk memikirkan sesuatu. Tejo menyimpan kertas tersebut dan dia masuk lagi kedapam rumahnya. Dihari berikutnya Tejo kembali melakukan aktifitasnya yaitu menggembalakan kambing. Akan tetapi Tejo sedih, karena kambing gembalanya tidak mau makan rumput yang ada. Akhirnya Tejo pulang dengan murung. Lama kelamaan apa yang dikawatirkan Tejo terjadi. Yaitu kambingnya kurus, dia takut dimarahi oleh juragannya. Dia mulai sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan rumput yang hijau untuk kambingnya. Semua kambingnya tidak mau memakan rumput kering yang dia berikan. Bahkan ada beberapa kambing yang sudah mati karena kelaparan. Alhasil, Tejo bingung dan menangis, dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan terhadap kambingnya. Mau dikembalikan ke juragnnya, nanti dia kerja apa, mau diterusin takut juragannya marah. Lama dia berfikir, lalu dia teringat dengan kertas yang dia temukan. Lalu Tejo memandangi kertas tersebut. Dan ….Tejo mengambil batang bambu lalu dibentuk lingkaran, ternyata dia coba membuat kacamata……Tejo bukan membuat kacamata untuk dirinya akan tetapi ternyata Tejo buat kacamata untuk kambingnya. Dia berfikiran kalau kambingnya dipasang kacamata hijau, si kambing akan melihat semuanya jadi hijau. Begitu pula dengan rumput yang Tejo berikan akan berubah jadi hijau dimata kambing yang dipasang kacamata tersebut. Dan akhirnya….jreennng…kacamata jadi lalu dipasangkan pada salah satu kambing. Dan ternyata…kambing yang tadinya tidak mau memakan rumput kering yang dia berikan, sekarang melahap semua rumput kering yang Tejo berikan.Tejo senang sekali kambingnya bisa makan lagi meskipun kambingnya dia akali dengan kacamata warna hijau. Dalam mata kambing, rumput tersebut hijau dan segar karena kambing diberikan kacamata warna hijau. Tapi bagi kambing yang tidak menggunakan kacamata hijau, tetap saja rumput tersebut kering dan layu.
Alhasil kambing gembalaan Tejo tetap gemuk gemuk meskipun ditengah musim kemarau panjang, dan meskipun makan dengan rumput kering
SUATU ketika, ada keluarga muda yang memiliki seorang anak. Anak tersebut diajari bahasa Indonesia dan sesekali sedikit diselipi dengan bahasa Inggris. Saat si anak tersebut berhasil mengucapkan nama suatu benda yang ditunjuk oleh orangtuanya dalam bahasa Indonesia dan Inggris, terlihat jelas betapa bangganya pasangan orangtua tersebut.
Hal semacam itu tentu sering dijumpai di sekitar kita. Banyak orangtua, terutama keluarga muda masa sekarang yang memilih mengajarkan bahasa ibu kepada seorang anak bukan lagi dalam bahasa Jawa, melainkan bahasa Indonesia. Bahkan, tidak jarang ditemui, orangtua yang memilih sejak dini sudah mengajarkan bahasa asing (utamanya bahasa Inggris) asing sebagai bahasa kedua bagi si anak.
Sejalan dengan tersebut, Dawud (100: 2008) menyebutkan bahwa pada umumnya siswa sekolah dasar (SD) di Jawa Timur (di luar Pulau Madura dan pulau sekitarnya) berbahasa pertama adalah bahasa Jawa dan berbahasa kedua disebutnya bahasa Indonesia. Di sebagian wilayah lainnya, terutama yang berada di daerah perkotaan dan di dalam keluarga muda, bahasa pertamanya adalah bahasa Indonesia sementara bahasa keduanya yang diperkenalkan kepada si anak adalah bahasa daerah (Jawa).
Memang sepintas hal tersebut tidaklah memiliki arti yang signifikan mengenai penggunaan bahasa pertama ataupun bahasa kedua yang diajarkan kepada anak-anak mereka. Namun, perlu kita sadari bahwa di provinsi Jawa Timur ini memiliki salah satu khasanah kebudayaan yakni khasanah bahasa daerah, bahasa Jawa.
Bahasa Jawa yang ada di Jawa Timur adalah bahasa Jawa yang memiliki standar ragam bahasa (Jawa) Surakarta dan Jogjakarta. Terdapat beberapa tingkatan atau ragam bahasa dalam bahasa Jawa, yaitu ragam ngoko, ragam krama baik krama madya atau krama inggil.
Ragam ini pula yang menjadikan sebuah bahasa Jawa menjadi satu-satunya bahasa yang luar biasa, karena memiliki tingkatan yang disesuaikan berdasarkan konteks yang melatarbelakangi percakapan. Di sinilah sebenarnya bahasa Jawa juga melatih unggah-ungguh atau tata krama yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang bisa memperhalus budi pekerti seseorang yang mempergunakan bahasa daerah (Jawa) tersebut.
Sementara itu, banyak terjadi kesalahan yang digunakan oleh anak-anak zaman sekarang dalam berkomunikasi menggunakan bahasa daerah (Jawa). Kondisi yang sebetulnya sangat memprihatinkan bagi kita semua. Lihat saja, tidak jarang para anak muda tersebut terkadang mencampur-adukkan ragam bahasa dalam percakapan, sehingga terdengar aneh di telinga dan dengans endirinya tidak sesuai dengan penggunaan yang seharusnya.
Misalnya, kulo sare, kulo dhahar, kulu kundur, dan seterusnya. Ragam tersebut tentu saja tidak tepat karena krama inggil digunakan untuk pembicara. Berdasarkan kasus tersebut, maka perlu adanya evaluasi dan reformulasi pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah.
Perlunya pengajaran yang menarik untuk bahasa daerah. Bisa jadi, pengajaran bahasa daerah (Jawa) yang hanya diajarkan di dalam kelas saja dan bersifat hapalan teoritis menyebabkan siswa didik menjadi jemu dan merasa bosan. Hal tersebut membuat siswa didik seolah merasa bahwa belajar bahasa daerah (Jawa) itu tidak ubahnya seperti belajar bahasa asing saja.
Pembelajaran bahasa daerah (Jawa) dapat dilakukan di luar kelas sekaligus melakukan kegiatan identifikasi benda secara langsung. Siswa akan kesulitan apabila harus membayangkan. Misalnya, arane godhong: godhong aren (dliring), godhong jarak (bledheg), dan sebagainya.
Contoh lainnya, seorang guru bisa mencari gambar-gambar yang menyertai pelajaran bahasa daerah (Jawa) tersebut dengan searching di sejumlah situs yang menyediakannya. Salah satunya adalah di situs macam google.com/image untuk kemudian ditampilkan di layar. Namun, tentu saja hal tersebut bisa dilakukan terutama untuk sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas pendukung yang memadai.
Salah satu reformulasi yang bisa dilakukan adalah melalui MGMP. MGMP ini menghasilkan rumusan pengajaran bahasa daerah (Jawa) yang sesuai dengan kondisi daerah dan sekolah masing-masing. Dan, perlunya dukungan berbagai pihak untuk melestarikan bahasa daerah (Jawa) di tengah-tengah generasi yang sarat dijejali dengan jutaan informasi saat ini. Semoga.
dikutip dari http://www.surya.co.id/pendapat/untukmu-guru/bahasa-jawa-adalah-bahasa-asing.html